PERSEPSI TENTANG ORANG DAN ATRIBUSI

| No comment yet
Pendahuluan
Sebagai mahluk sosial kita selalu berinteraksi. Saat berinteraksi dengan orang lain, disaat itu juga kita melakukan persepsi terhadap lawan bicara. Dilakukan agar komunikasi bisa berjalan efektif.
Misal, saat hendak berinteraksi dengan seseorang kita melihat dia tidak dalam kondisi sehat dan ia terlihat murung. Kita tentu mempersepsikan bahwa orang itu sedang sedih. Dari situ kita mencoba berinteraksi dengan cara yang berbeda ketika dia sedang nampak senang. Dengan begitu tentunya komunikasi bisa terjalin lebih enak dan efektif.
Saat hendak berinteraksi dengan orang baru yang menurut teman-teman anda mudah tersinggung dan bertemperamen tinggi, anda juga berhati-hatai dalam bersikap dan berbicara. Persepsi tentang orang tersebut mempengaruhi perilaku kita, tentu kita tidak ingin salah dalam bersikap dan membuatnya tersinggung.
Perbedaan persepsi benda dengan persepsi sosial
N0
Persepsi benda
Persepsi sosial
1
Stimuli ditangkap oleh benda melalui benda-benda  fisik;gelombang, cahaya, temperatur
Stimuli sampai kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ke-3
2
Kita hanya menanggapi  sifat-sifat luar obyek
Mencoba memahami apa yang nampak pada alat indra








INFERENSI SOSIAL
Mempersepsi orang lebih sulit dan lebih mungkin untuk tidak cermat dari pada mempersepsi benda. Inferensi sosial berarti mengerti apa yang kita pelajari tentang orang atau orang-orang lain.
Prosesnya dimulai dari mengumpulkan data sosial berupa : informasi sosial, penampilan fisik, isyarat-isyarat nonverbal, dan tindakan-tindakan orang lain. Semua itu membentuk data sosial yang terintegrasi dan terkumpul untuk membentuk kesan mengenai orang lain.
Pembentukan konsep sosial
v  Pengalaman
            beberapa pengalaman yang dialami menjadi berbeda tergantung saat pertama kali diproses dan diterima oleh diri kita. hal ini membentuk suatu kategori alami (natural catagories). Dalam persepsi seseorang, jenis katagori ini dapat dibedakan berdasarkan tindakan yang berbeda yang dilakukan seseorang. Misalnya seorang perempuan yang berbicara di depan kelas dihadapan pelajar, secara alami akan berbeda  dengan  perempuan yang berlari ditaman
v  Belajar
            seorang anak cenderung untuk memperoleh dan menggunakan konsep sosial yang sama seperti orang tuanya karena ia belajar dari orang tuanya tentang hal-hal yg sama
v  Bahasa
            kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu bisa mempengaruhi kualitas yang kita terima tentangnya. bisa dikatakan bahasa membentuk konsep dan juga makna atau arti katanya.
Contoh : dalam menulis berita surat kabar terkdang menulis perempuan berusia 17 th dengan kata-kata “gadis berusia 17 tahun”. Penggunaan kata-kata gadis dan bukan perempuan bisa mempengaruhi cara perpikir dan persepsi orang yang membacanya

Saat pembentukan konsep-konsep itu sudah mulai terbentuk maka terciptalah suatu label yang dilekatkan pada orang-orang tertentu. Ada beberapa kriteria labeling itu tercipta diantaranya
Ø  melalui kemiripan
Ø  motivasi
Ø  konteks

v  Melalui kemiripan
saat pengalaman sosial yang dialami memiliki kemiripan elemen dengan pengalaman yang terdahulu, label yang sudah ada bisa muncul.
 Misalnya, berdasarkan pengalaman yang lalu kita menyimpulkan bahwa orang yang selalu membanggakan dirinya dan tidak henti-hentinya membicarakan dirinya sendiri, kita beri label sebagai orang yang sombong dan egois
v  Motivasi
Saat kita memperoleh nilai yang jelek di satu mata kuliah kita bisa saja menilai dosen kita adalah orang yang tidak adil, atau saat tim favorit kita dikalahkan dalam satu pertandingan, kita juga akan menilai tim lawan sebagai tim yang bermain curang
v  Konteks
sikap dan perilaku bisa memiliki arti yang berbeda pada konteks yang berbeda, misalnya kita tersenyum saat menonton sebuah acara komedi di TV. Disini makna tersenyum itu adalah karena kita merasakan ada sesuatu yang lucu dan merupakan ekspresi perasaan
Perilaku yang sama akan memiliki makna yang berbeda saat  kita tersenyum pada seseorang yang baru kita kenal.
Pengorganisasian kesan
Centrality
Beberapa sifat pribadi mempengaruhi cara menginterpretasi orang lain. Misalnya apabila seseorang disebut mimiliki sifat “hangat “ dan “cerdas”  maka jenis “cerdas” yang dimaksud berbeda jika orang tersebut diinterpretasikan “dingin” dan  “cerdas”. Dimensi “hangat-dingin” menjadi pusat (sentral) bagi pembentukan kesan, yang nantinya akan mempengaruhi keseluhan penilaian kita mengenai orang lain.
Peneliti lain menyebutkan bahwa karakter dapat dibedakan dalam dua dimensi, yaitu berdasarkan nilai karakternya (baik atau buruk) dan orientasi atau hakekat karekternya ( sosial dan intelektual)
Misalnya karaktek sosial-baik, seperti “hangat” memberi konteks yang penting bagi sifat intelektual, seperti “ceerdas” orang yang cerdas dan hangat berbeda dari jenis kecerdasan lainnya.  Jadi karakter sentral adalah salah satu yang memberikan konteks tambahan untuk pembentukan kesan.
Primacy versus recency
Urutan informasi yang diterima seseorang dapat mempengaruhi kesan yang terbentuk. Kesan pertama meninggalkan kesan yang penting. Memberikan nilai lebih pada informasi pertama yang diterima merupakan suatu primacy effect. Primacy efect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan.
Namun pada beberapa situasi, informasi terakhir bisa memberikan pengaruh yang tertunda dalam pembentukan kesan. Misalnya saat akan memasuki kelas baru, ketia diberi tahu bahwa dosen baru yang akan memberikan mata kuliah itu adalah dosen yang tegas, disiplin dan keras. Kita bisa menahan penilaian itu sampai kita bertemu langsung dengan orangnya dan membuktikan sendiri kebenaran cerita itu. jika kita lebih mengandalkan pada informasi terakhir dan menganggap itu lebih berpengaruh maka hal itu disebut sebagai recency efect.
Salince
Salience merupakan hal-hal yang penting dapat dilihat atau diketahui, terutama dalam bentuk tertentu. Kondisi yang membentuk rangsangan sosial ini diantaranya adalah kejelasan, keras tidaknya suara, gerakan, dan kebaruan.

Poskan Komentar

Followers