FAKTOR-FAKTOR PERSONAL YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MANUSIA

| No comment yet

Ada dua macam psikologi sosial.
  1. Psikologi sosial dengan huruf P besar
  2. psikologi sosial dengan huruf S besar
Kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor sosial. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal),dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental).
McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.
Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.
  1. Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia. Pentingnya kita memperhatikan pengaruh biologis terhadap perilaku manusia seperti tampak dalam dua hal berikut :
    1. Telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan perngaruh lingkungan atau situasi.
    2. diakui pula adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yang lazim disebut sebagai motif biologis. Yang paling penting dari motif biologis adalah kebutuhan makan-minum dan istirahat, kebutuhan seksual, dan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya.
  1. Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
    1. Komponen Afektif
merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya.
    1. Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
  1. Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

PENDEKATAN NEUROBIOLOGIS
Menurut sukadji, otak manusia dengan 2 milyar sel syaraf dan jaringan-jaringan serta jalur-jalur syaraf yang tak terhingga banyaknya mungkin merupakan suatu struktur yang paling kompleks di jagat raya. Pada dasarnya semua kejadian psikologi dikemudikan dengan cara-cara tertentu oleh kegiatan otak dan sistem jaringan syaraf yang berkaitan dengan sistem tubuh yang lain. Salah satu pendekatan studi mengenai manusia adalah usaha menghubungkan tindakan dengan kejadian yang berlangsung di dalam tubuh terutama di dalam otak dan susunan syaraf . Pendekatan ini mencoba menjelaskan hubungan antara perilaku yang dapat diamati dan kejadian-kejadian mental ( seperti pkiran dan emosi ) menjadi proses biologis.
Penemuan-penemuan penelitian telah menunjukan bahwa ada hubungan yang erat antara aktivitas otak dengan perilaku dan dengan pengalaman. Misalnya, reaksi emosi, seperti takut dan marah, pada hewan dan manusia dapat dirangsang dengan aliran listrik lemah didaerah tertentu yang jauh dibagian dalam otak. Rangsangan listrik pada daerah tertentu yang lain didalam otak manusia dapat menimbulkan rasa senang atau sakit bahkan dapat menimbulkan ingatan jelas pada kejadian masa lalu.
Dari berbagai penelitian dikatakan, tindakan manusia yang paling rumitpun pada akhirnya mempunyai kemungkinan untuk diperinci dan diteliti dasar mekanisme neurobiologisnya. Namun, teori neurobiologis yang lengkap cakupannya sekarang baru merupakan harapan. Oleh karena rumitnya otak dan kenyataan bahwa otak manusia hidup jarang dapat dipakai untuk penelitian, lowongan-lowongan pengetahuan mengenai fungsi syaraf banyak yang belum terisi.
Konsepsi psikologi mengenai manusia yang hanya berdasarkan neurobiologis kurang memadai untuk menjelaskan perilaku manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatam-pendekatan lain untuk mengkaji fenomena-fenomena psikologi.

PENDEKATAN PSIKOANALISIS
Psikoanalisis sesnugguhnya adalah tekhnik psycho- therapeutic (psiko-terapetic). Berdasarkan pengalaman terapi terhadap penderita gangguan jiwa disebut neurotic maka Freud menerbitkan buku yang terkenal dalam sejarah psikologi, berjudul Interpretation of dreams (1900). Apa yang menjadi dasar timbulnya teori psikoanalisis ini? Anggapan dasar teori Freud adalah bahwa perilaku manusia ditentukan oleh insting bawaan yang sebagian besar tidak disadari. Proses ketidaksadaran ini menurut freud adalah proses terpengaruhnya perilaku oleh pikiran, kekuatan atau keinginan-keinginan yang tidak disadari olegh orangnya. Feud percaya bahwa berbagai impuls ( dorongan untuk berbuat sesuatu ) semasa masih kanak-kanak diusir dari kesadaran dan terpendam dalam ketidaksadaran meskipun ada dalam ketidaksadaran, impuls-impuls ini masih mempengaruhi perilaku. Perwujudan impuls-impuls tidak sadar ini dapat berupa mimpi, keliru ucapan, sara dan (tindakan-tindakan kecil yang tanpa disadari berulang, sepertimata beerkedip-kedip atau menarik-narik leher baju sendiri), dan gejala-gejala penyakit neurotic (yang biasa disebut penyakit syaraf) atau menjelma menjadi mperilaku yang dapat diterima masyarakat, seperti seni, sastra atau kegiatan ilmiah ( sukadji ; 1986).
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

1.  Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.
Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan.

Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

2.   Ego

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.

3.   Superego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan superego

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego.
PENDEKATAN PERILAKU (BEHAVIORISME)
Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Sebagaimana dikatakan Sukadji, pengalaman sadar hanyalah kejadian-kejadian yang dialami dengan kesadaran penuh. Anda mungkin sadar akan berbagai pikiran dan hipotesis yang melintas dalam batin anda selagi anda memecahkan suatu masalah yang sukar. Anda tetapi, seorang pengamat hanyah dapat menilai dari tindakan anda, emosi apa yang sedang anda alami, namun tidak dapat mengamati pengalaman sadar anda itu sendiri. Hanya anda sendiri yang dapat mengamatinya. Seorang psikolog dapat mencatat apa yang dikatakan oleh seseorang mengenai pengalaman sadarnya (laporan verbalnya) dan dari data objek ini dapat disimpulkan kegiatan mental orang tersebut. Jelasnya, psikologi S-R tidak mempelajari prosese mental yang terjadi yang mengantarai stimulus dan respon yang dapat diamati.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme :
- Obyek psikologi adalah tingkah laku
- semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek
- mementingkan pembentukan kebiasaan

PENDEKATAN KOGNITIF
Pandangan Tentang Manusia
Pada tahun 1962 pendekatan Kognitif mulai dikenalkan oleh Albert Ellisdengan teori Rasional Emosi Psikoterapi. Albert Ellis berpendapat bahwaperasaan dan tingkah laku manusia disebabkan oleh pikiran manusia sendiri.Pendekatan Kognitif bertujuan menolong konseli mengenali dan membuangkognisi yang menaklukan diri-sendiri.Teori dasar dari model kognitif pada kelainan emosional yang diajarkanoleh Beck mengatakan bahwa agar bisa memahami gangguan emosional, makahal yang esensial adalah memfokuskan pada isi kognitif dari reaksi individualterhadap peristiwa maupun alur pikiran yang menimbulkan amarah. Sasarannyaadalah mengubah cara berpikir konseli.
Psikologi kognitif berpendapat bahwa manusia bukan hanya penerima stimuli yang pasif. Mental manusia mengolah informasi yang diterimanya dan mengubahnya menjadi bentuk-bentuk baru dan memilihnya kedalam kategori-kategori.
Kognisi adalah sebutan bagi proses berbagai cara mentransformasikan masukan indrawi, membubuhi kode-kode pada masukan ini, dan menyimpan kode-kode dalam ingatan serta mengambil kembali untuk digunakan jika diperlukan. Persepsi, membutuhkan image, pemecahan masalah, ingatan dan berpikir, semua adalah istilah yang menggambarkan fase-fase hipotetic terjadunya kognisi.
Pendekatan kognitif adalah pendekatan yang menanggapi keresahan orang ketika behaviorisme (pendekatan S-R) tidak mampu menjawab mengapa ada orang yang dapat berperilaku berbeda dari lingkungannya, yakni karena ia memiliki motif pribadinya sendiri (self motivasi). Juga karena telihat bagaimana pasifnya manusia. Adapun psikologi kognitif berusaha meneliti proses-proses mental, tetapi dengan cara objektif dan ilmiah.
Pendekatan ini melihat manusia sebagai makhluk yang selalu berussaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir (homo sapiens).
Perilaku manusia harus dilihat dari konteksnya. Perilaku manusia bukan sejedar hasil dari proses menanggapi stimulus yang diterimanya menurut kurt lewin.
PENDEKATAN HUMANISTIK
Pendekatan yang Humanistik mulai dalam menanggapi keprihatinan yang dirasakan oleh para terapis terhadap keterbatasan dari teori-teori psikodinamik, khususnya psikoanalisis. Individu-individu seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow merasa ada (psikodinamik) teori memadai gagal menangani masalah-masalah seperti makna perilaku, dan sifat pertumbuhan yang sehat . Namun, hasilnya tidak hanya variasi baru pada teori psikodinamik, melainkan pendekatan baru yang mendasar.
Ada beberapa faktor yang membedakan Pendekatan Humanistik dari pendekatan-pendekatan lain dalam psikologi, termasuk penekanan pada makna subjektif, penolakan terhadap determinisme, dan kepedulian terhadap pertumbuhan positif daripada patologi. Sementara orang mungkin berpendapat bahwa beberapa teori psikodinamik memberikan visi pertumbuhan yang sehat (termasuk konsep Jung individuasi), yang lain membedakan karakteristik Pendekatan Humanistik dari setiap pendekatan lain dalam psikologi (dan kadang-kadang menyebabkan teori dari pendekatan-pendekatan lain untuk mengatakan Humanistik Pendekatan ini tidak ilmu sama sekali). Kebanyakan psikolog percaya bahwa perilaku hanya dapat dipahami secara obyektif (oleh pengamat yang netral), tetapi humanis berpendapat bahwa hasil ini dalam menyimpulkan bahwa seorang individu tidak mampu memahami perilaku mereka sendiri – suatu pandangan yang mereka lihat sebagai paradoks baik dan berbahaya untuk baik kesehatan. Sebaliknya, humanis seperti Rogers berpendapat bahwa makna pada dasarnya perilaku pribadi dan subjektif; mereka lebih jauh berpendapat bahwa menerima ide ini tidak ilmiah, karena pada akhirnya semua individu adalah subjektif: apa yang membuat ilmu pengetahuan tidak dapat dipercaya bahwa para ilmuwan yang murni objektif, tetapi bahwa sifat dari kejadian yang diamati dapat disepakati oleh berbagai pengamat (suatu proses verifikasi intersubjektif panggilan Rogers).
Masalah-masalah yang mendasari Pendekatan Humanistik, dan perbedaan dari pendekatan lain, akan dibahas lebih lengkap dalam teks, namun sumber-sumber yang berguna di bawah ini memberikan informasi tambahan. Satu hal patut dicatat: jika Anda ingin benar-benar memahami sifat Pendekatan Humanistik, Anda tidak dapat mempertimbangkan dalam istilah abstrak. Sebaliknya, Anda harus mempertimbangkan apakah dan bagaimana ide-ide berhubungan dengan pengalaman Anda sendiri – untuk itu adalah bagaimana makna perilaku ini berasal
ASUMSI DASAR MANUSIA MENURUT PENDEKATAN HUMANISTIK
1. Manusia adalah makhluk yang baik dan dapat dipercaya
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik dan berupaya menjalin hubungan yang bermakna dan konstruktif dengan orang lain.
2. Manusia lebih bijak daripada inteleknya
Manusia lebih bijak dari pikiran-pikiran yang disadarinya bilamana manusia berfungsi dengan cara yang baik dan tidak disentrif.
3. Manusia adalah makhluk yang mengalami
Yaitu makhluk yang memikirkan, berkehendak, merasakan dan mempertanyakan. Rogers yakin bahwa inti dari kehidupan yang bernilai terletak dalam mengalami sebagai pribadi yang mendalam.
4. Kehidupan ada pada saat ini, kehidupan ialah hidup sekarang
Kehidupan itu lebih dari sekedar tingkah laku otonistik yang ditentukan oleh peristiwa masa lalu, dan nilai kehidupan terletak pada saat sekarang, bukan pada masa lalu atau pada saat yang akan datang.
5. Manusia adalah makhluk yang bersifat subyektif
Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami berdasarkan dunia subyektifnya, yaitu bagaimana individu itu memandang diri dan lingkungannya.
6. Hubungan manusiawi yang mendalam merupakan salah satu kebutuhan yang terpokok manusia
Meningkatkan hubungan antar pribadi yang mendalam memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber kesejahteraan mental manusia.
7. Manusia memiliki kecenderungan kearah aktualisasi
Kecenderungan manusia adalah bergerak ke arah pertumbuhan, kesehatan, penyesuaian, sosialisasi, realisasi diri, kebebasan dan otonomi.

FAKTOR PERSONAL DAN SITUASIONAL
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi Atraksi Imterpersonal. Atraksi Interpersonal dapat mempengaruhi komunikasi Interpersonal karena atraksi interpersonal dapat berpengaruh pada keefektifan komunikasi dan penafsiran pesan oleh komunikan.
Dalam psikologi sosial terdapat dua pendekatan yaitu ada yang menekankan pada faktor psikologis dan ada yang menekankan pada faktor sosiologis. Faktor psikologis biasa disebut faktor personal (faktor yang timbul dari dalam diri individu) dan faktor sosiologis biasa disebut faktor situasional (faktor yang timbul dari luar diri individu).
Pada tahun 1908 terdapat dua pemikiran yang berbeda yaitu pemikiran yang pertama menyatakan bahwa faktor psikologislah yang mempengaruhi tindakan individu. pernyataan ini dikemukakan oleh McDougall seorang Psikolog. Dan pemikiran kedua menyatakan bahwa tindakan individu didasarkan pada faktor situasional. Pernyataan ini dikemukakan oleh Edward Ross seorang sosiolog. Pernyataan yang dikemukakan oleh Edward mulai populer di negri Paman Sam sehingga memporak-porandakan dalil-dalil McDougall.
Pemikiran kedua tokoh tersebut mendapatkan sorotan tajam sehingga pernyataan mereka digunakan untuk membahas faktor-faktor yang melatar belakangi tindakan dan perilaku individu. Dalam makalah ini kami akan membahas faktor-faktor yang berasal dari dalam individu (faktor personal) dan faktor-faktor yang berasal dari luar individu (faktor situasional) yang mempengaruhi Atraksi Interpersonal.
Karena pentingnya atraksi Interpersonal maka kita akan melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi atarksi interpersonal. Terdapat dua faktor yaitu :
1. Faktor-faktor Personal
Adapun faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal adalah :
a. Kesamaan karakteristik kelompok
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive Consistensy dari Fritz Heide, manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Kata Heider, kita cenderung memilih orang yang sama sikapnya dengan kita bahkan kita ingin memiliki sikap yang sama dengan orang yang kita sukai, supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten.
Asas kesamaan ini bukanlah satu-satunya determinan atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antar individu. Walaupun begitu, bagi komunikator, lebih tepat untuk memulai komunikasi dengan mencari kesamaan diantara semua peserta komunikasi.
b. Tekanan Emosional
Dalam penelitian, seseorang yang berada dalam keadaan cemas yang sangat tinggi lebih menginginkan adanya sahabat atau orang didekatnya untuk memberikan kasih sayang.
c. Harga diri yang rendah
Menurut Walster, bila harga diri direndahkan, hasrat bergabung dengan orang lain bertambah, dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Dengan perkataan lain, orang yang rendah diri cenderung mudah mencintai orang lain.
d. Isolasi diri
Beberapa orang peneliti menyebutkan bahwa tingkat isolasi sosial yang amat besar berpengaruh terhadap kesukaan kita pada orang lain. Menurut Aronson, orang yang kesukaannya kepada kita bertambah akan lebih kita senangi darpada orang yang kesukaannya kepada kita tidak berubah.
2. Faktor Situasional
Adapun faktor-faktor situasional yang mempengaruhi Atraksi interpersonal yaitu :
a. Daya Tarik Fisik
Dalam beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama Atraksi personal. Orang-orang yang berwajah cantik dan ganteng cenderung mendapat penilaian yang baik dan dikatakn mempunyai sifat-sifat yang baik.
b. Ganjaran
Kita cenderung menyenangi orang yang memberi ganjaran pada kita. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan moral, pujian, atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita. Kita akan menyukai orang yang menyukai kita.
c. Familiarity
Yaitu hubungan kita dengan orang-orang yang sudah kita kenal. Menurut Robert B. Zajonc, semakin sering orang melihat seseorang maka ia akan semakin menyukainya.
d. Kedekatan (Proximity)
Orang cenderung menyenangi mereka yang berdekatan dengannya, baik rumah, tempat tidur, tempat duduk, dan sebagainya.
e. Kemampuan
Kita cenderung menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi daripada kita atau lebih berhasil dalam kehidupannya. Dalam penelitian Aronson, orang yang paling disenangi adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi tapi menunjukkan beberapa kelemahan.

Poskan Komentar

Followers